Skip to main content

PROSES PENCEGAHAN KOROSI PADA PIPA DIBAWAH LAUT

PROSES PENCEGAHAN PIPA DARI KOROSI

Coating pipa banyak jenis dan macamnya. Diantaranya yaitu: Three Layer Pholyethilen, Three layer polypropylene, FBE powder Coating, Cement Lining, Coating Coltar, Varnish, Galvanis, Coating Tape dan Epoxy seperti yang telah dibahas pada Bab tiga. Pada projek ichthys ini proses pengaplikasian coating menggunakan metode Multi layer polypropylene sehingga kekuatan dan fungsinya sesuai dengan yang diharapkan oleh client. Fungsi utama dari proses pengaplikasian ini adalah untuk mencegah terjadinya korosi dan mencegah terbentuknya Hidrat sebagai mana yang telah dijelaskan pada bab tiga.
1. MLPP Champer
            MLPP Champe merupakan permukaan yang harus diperhatikan agar kemiringan dari MLPP dasar tidak kurang dari 30 dengan toleransi +50 . fungsi dari pembuatan champer ini agar saat  proses IMPP tidak terjadi disbonment. Sehingga  kualitas dan kerekatan ( bondit ) pada saat pengaplikasian IMPP  sesuai dengan  prosedur document no E140-AY-REP- 10131.



2.   Quality Control  ( Coating Inspector )
Tugas dari inspector pada proses coating yaitu untuk menjaga kualitas dari proses produksi  pipeline dengan mengikuti ITP. Pipeline yang telah diproduksi akan diperiksa oleh inspector sehingga rejeck atau tidaknya bahan itu tergantung dari hasil inspeksi yang dilakukan oleh coating inspector.
Sebelum proses pengaplikasian MLPP pada field joing terlebih dahulu QC harus menginspeksi hasil pengelasan. Pada projek icthys base PT.Ninda Pratama Vriesindo Batam proses inspeksi setelah pengelasan menggunakan fisual dan dan Ultrasonic tes. Hasil dari inspeksi akan merekomendasikan untuk dilakukan proses selanjutnya. Apabila hasil dari UT  menjelaskan bahwa field join ( pada pengelasan ) tidak terjadi cacat maka akan dilanjutkan dengan proses coating.


3         Pre-Coating ( surface preparation  )
            Pada tahap penyiapan permukaan field join ini sangat menentukan baik jeleknya kualitas dari hasil proses Blasting dan FBE nantinya. Pada tahap ini banyak sekali dilakukan inspeksi dan pengecekan untuk menentukan kualitas sesuai yang diharapkan. Adapun inspeksi dan pengecekan yang dilakukan pada tahap ini  oleh Quality Control Coating Inspektor dan Coating Representative  dari client.
4 Dew Point
            Sebelum melakukan blasting dengan system pengaplikasian Closed Excle  Blast Operation selesai maka para inspector harus melakukan cek dew poin pada field join yang telah di blasting. Proses dew poin yaitu proses dimana para inspector harus mengetahui temperatur dimana uap air akan menjadi embun ,dalam istilah lain disebut dengan titik embun. Oleh karena itu para inspector harus mengecek apakah dew poin sesuai dengan ITP atau tidak. Jika dew poin kurang dari yang telah ditentukan dalam ITP , maka proses selanjutnya harus dihentikan. Untuk mencari dew poin bisa dilakukan dengan menggunakan alat Whearling. Pada prose  ini temperature yang di izinkan untuk dew poin adalah     > 30 C . Apabila permukaan field join terjadi kelembaban dibawah 30C pada permukan field join akan dipanaskan  dengan temperatur 70-900C.
4.2.2         5. Relative Humudity ( uap air )
Inspeksi ini dilakukan sebelum proses pengaplikasian blasting. Fungsi dari tes RH ini yaitu untuk mengetahui tingkat ketinggian kadar uap air yang ada diruangan dimana akan dilakukan proses blasting. Biasanya HR ini dalam bentuk satuan (%) dan batasan maksimumnya yaitu 85%. Jika RH kurang dari atau sama dengan 85% maka proses blasting dapat dilakukan .
 Jika RH lebih besar dari 85% maka proses Blasting tidak boleh dilakukan karena tingkat kandungan uap air di udara terlalu besar yang akan mengakibatkan uap air menempel pada permukaan pipa dan ini merupakan penyebab dari proses karat sebelum pipa diapplikasi. Apabila suhu permukaan baja kurang dari 30C dan kandungan uap air di dalam ruangan melebihi dari 85% maka permukaan field join harus dipanaskan dengan menggunakan dua metode  yaitu dengan metode kumparan induksi pemanas dan bias juga dengan obor pemanas yang menggunakan api biru.  Untuk proses ini harus sesuai dengan ASTM D4285.
6.  Pipe Temperature
Ketentuan temperatur pipa yang boleh untuk diapplikasi yaitu minimal 3ºC diatas Dew Point (3ºC Above Dew Point). Jika temperatur pipa kurang dari 3ºC diatas Dew Point atau dibawah Dew point, maka applikasi tidak boleh dilakukan, karena uap air akan menempel pada permukaan pipa yang menyebabkan hasil applikasi tidak bisa tahan lama karena akibat uap air yang menempel tadi akan mengakibatkan pipa mengalami karat.
            Thermocopple adalah salah satu alat ukur yang digunakan untuk mengukur temperature pipe sebelum diaplikasikan. Contoh dari alat ukur temperature dapat dilihat pada gambar dibawah ini

Gambar 4.2  Thermocopple


 [
 4.3. Proses Coating
4.3.1    Pre-Blasting  ( Proses Grinding  )
   Sebelum proses blasting, terlebih dahulu dilakukan proses grinding pada permukaan field join coating. Proses pre-Blasting ini dilakukan agar permukaan pipa terbebas dari cacat yang akhirnya akan mengganggu pada proses tahap berikutnya yaitu tahap Blasting. Diantara bentuk-bentuk cacat pada pipa diantaranya yaitu:
1.      Porosity, yaitu cacat berbentuk lubang yang berdiameter sangat kecil, tetapi cacat ini sangat berbahaya karena pipa bisa mengalami kebocoran. Untuk mengatasi cacat ini harus dilakukan proses repair dengan welding manual dan kemudian dilkukan proses gerinda untuk menghaluskan permukaan.
2.      Scracth, yaitu cacat berbentuk luka akibat tergores benda tajam, sehingga bentuknya menjadi tajam dan perlu proses penggerindaan untuk menghaluskan. Jika scracth ini terlalu dalam, maka perlu proses welding manual dan gerinda sepeti cacat porosity.
3.      Laminasi dan sliver, yaitu cacat yang berbentuk material mengelupas akibat peleburan logam yang tidak sempurna, cacat ini perlu dilakukan proses penggerindaan sampai cacat tersebut hilang.
4.      Pembentukan serbuk ( oksidasi ) pada saat terjadi tahap pertama korosi.
Proses Pre-blasting yang dilakukan harus mengikuti standar operasional yang telah dibuat. Sehingga untuk proses selanjutnya akan sempurna. Adapun proses pre-Blasting yang dilakukan pada field join dapat dilihat pada gambar dibawah ini.
Gambar 4.3 Proses Pre-Blasting




1.3.2     Blasting  (Closed Excle Blas Operation )
            Tahap selanjutnya untuk proses pengaplikasian coating yaitu tahap penyiapan permukaan field join pada pipeline dengan menggunakan mesin Blasting dengan sistem aplikasi Closed Excle Blas Operation. Fungsi dari penyiapan permukaan ini agar permukaan field join bebas dari segala kontaminasi, baik kotoran maupun mill scile dan membentuk kekasaran permukaan field join pada pipeline agar proses selanjutnya yaitu pengaplikasian FBE dapat melekat dengan sempurna sehingga memiliki kualitas yang bagus.
Gambar 4.4  Proses Blasting
Blasting yaitu proses pembersihan permukaan material dengan cara menggunakan butiran-butiran steel grit dan steel shot ataupun pasir kering yang disemburkan dengan tekanan udara yang sangat kuat sehingga menghilangkan lapisan material yang paling luar, termasuk karat dan mill scale.
Pipa yang sudah diproses Blasting harus segera diproses Applikasi, karena pipa yang sudah di proses Blasting ini mempunyai batasan waktu untuk diproses Aplikasi. Selang waktu yang diperbolehkan untuk proses Applikasi yaitu tidak boleh lebih dari 3 jam. Karena kalau lebih dari 3 jam, maka banyak debu yang akan menempel pada permukaan pipa, dan uap air juga akan menempel pada permukaan pipa, karena temperatur pipa sudah turun menyamai temperatur ambeient (temperatur ruangan). Setelah dilakukan proses blasting maka para inspector harus melakukan beberapa tes agar proses blasting yang dilakukan sempurna. Adapun tes yang dilakukan oleh para inspector dapat dilihat pada poin dibawah ini.

1.3.2.1  Salt Contamination
Salt kontaminasi adalah proses tes yang dilakukan untuk mengetahui kandungan garam yang ada pada field join/permukaan pipa. Kadar garam yang ada pada field join atau permukaan pipa harus seminimal mungkin , karena semakin besar kadar garam yang terkandung , maka proses korosi akan semakin cepat. Pada tes kontaminasi kadar garam di field join ini yang dibolehkan adalah tidak lebih dari 2 mg/cm2. Saat proses pengecekan oleh inspector maka harus mengikuti standar ISO 8502-9. Alat yang digunakan untuk pengecekan kadar garam adalah Salt Contamination Meter ( SCM 400 ). Adapun contoh alat pengukur garam yang ada pada permukaan besi dapat dilihat pada gambar dibawah ini.
                                                                      

Gambar 4.5  Elcometer 130 Salt Contamination Meter

1.3.2.2  Dust Level
Dust Level yaitu tingkat kandungan kotoran atau debu yang ada pada pipa setelah proses Blasting selesai. Hal itu dapat kita ketahui dengan menggunakan masking tipe yang terbuat dari plastik transparan, kemudian di bandingkan dengan tabel Dust level. Kreteria penerimaan Dust Level yaitu sampai dengan level 3. jika terjadi level 4, maka harus dilakukan proses Blasting ulang.
pada saat proses inspeksi harus mengikuti standar ISO 8502-3. Contoh dari rating dust dapat dilihat pada gambar dibawah ini.
                                                                            
Gambar 4.6  Dust Level Test
4.3.2.3  Surface Roughness
Surface Roughness yaitu tingkat kekasaran permukaan pipa setelah melalui proses blasting. Surface Roughness ini diukur setelah blasting selesai, dan ini dapat kita ketahui tingkat kekasarannya dengan berbagai cara, diantaranya yaitu melalui perbandingan dengan alat komper yang bernama Comparator sesuai dengan ASTM D-4417A, ataupun dengan menggunakan bantuan Replica Tape sesuai dengan ASTM D-4417C yang kemudian kita ukur dengan alat yang bernama Foil Thickness Gauge (Dial Indicator Gauge) sesuai dengan ASTM D-4417D. Kekasaran permukaan pipa ini dibentuk bertujuan untuk mengikat cairan epoxy supaya terjadi bondit (menempel) dengan permukaan pipa. Semakin kasar permukaannya, maka tingkat ikatannya semakin kuat. Dan sebaliknya semakin halus permukaannya, maka semakin lemah tingkat bonditnya. Kekasaran permukaan ini harus disesuaikan dengan tebal epoxy yang dinginkan, biasanya sekitar 30 s/d 100 µm. Adapun nilai kekasaran permukaan dapat dilihat pada table dibawah ini.
Tabe 4.1 Nilai kekasaran permukaan
Menurut spesifikasi pada projek ini , kekasaran permukaan  diukur setelah blasting dilakukan. Kekasarana permukaan minimum yang diizinkan yaitu 50-100 µm sesuai dengan standar ISO 8503-5. Jika tidak sesuai dengan standar yang telah ditentukan, maka proses blasting harus dilakukan. Kekasaran permukaan yang telah dilakukan proses blasting dapat dilihat pada gambar di bawah ini.
Gambar 4.7  Permukaan pipe Setelah Blasting

This is the body of your page.

Comments

Terimakasih atas tanggapannya, !
Unknown said…
sangat Bagus dapat ilmu baru saya

Popular posts from this blog

PENGUJIAN ROUGNESS (KEKASARAN PERMUKAAN)

https://youtu.be/swx7DZEnM-U <![endif]--> TEORI DASAR PENGUJIAN ROUGNESS 3.1       Teori Dasar             Permukaan suatu benda kerja dari hasil pengerjaan mesin maupun yang lainya tentu akan mempunyai kekasaran pada permukaan benda tersebut, baik yang bergelombang maupun yang rata. Diantaranya faktor-faktor susunan permukaan benda tersebut adalah halus atau kasar permukaannya. Kekasaran permukaan benda kerja bukan disebabkan oleh permukaan yang bergelombang. Gambar 3.1 Garafik Gelombang Kerataan             Kurva kekasaran ditunjukan sebagai Y = F(x) dengan panjang kurva 1m, dimana garis sumbu kurva kekasaran permukaan benda sebagai sumbu x dan pembesaran arah vertikal sebagai sumbu y, Harga kekasaran (Ra) dapat dihitung dengan rumus :           ...